Pada dasarnya dalam penetasan telur yang sangat perlu diperhatikan adalah temperatur dan kelembapan dalam ruang mesin tetas. Jika kita dapat menjaga 2 hal tersebut mendekati dengan kondisi alami pada pengeraman pada induknya, maka akan didapatkan hasil yang maksimal dalam penetasan telur ini. Sebenarnya, selama proses penetasan, suhu mesin bisa dibuat seragam 38,9 derajat celcius untuk mesin tetas kapasitas kecil. Suhu yang terlalu panas pada mesin tetas dapat menyebabkan telur mengalami dehidrasi, sehingga DOC yang dihasilkan akan lemah, lesu, dan tidak bergairah makan. Akibatnya, DOC akan mengalami kekerdilan dan mortalitas.
Kelembapan udara berfungsi untuk mengurangi atau menjaga cairan dalam telur dan merapuhkan kerabang telur. Jika kelembapan tidak optimal, embrio tidak akan mampu memecahkan kerabang telur yang terlalu keras. Namun kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan air masuk melalui pori-pori kerabang, lalu terjadi penimbunan cairan didalam telur. Akibatnya embrio tidak dapat bernafas lalu mengalami kematian. Pada sisi teknis kegagalan penetasan bersumber dari kegagalan pengaturan suhu dan kelembapan.
Pengaturan suhu dan kelembapan dengan menggunakan mikrokontroler rancangan dari salah satu mahasiswa teknik elektro ITS ini, sepertinya mampu memberikan solusi bagi para peternak atau breeder ayam kampung, ayam arab, itik maupun breeder burung puyuh. Dari segi biaya yang dibutuhkan juga sangat terjangkau, hanya yang perlu diuji lebih jauh adalah kemampuan perangkat elektronik ini jika digunakan secara terus-menerus apakah sensornya tetap dapat bekerja dengan baik.
---semoga bermanfaat---


